PROFIL PERUSAHAN DUPA DEWI BUNGA

4:50 PM Edit This 1 Comment »


     Sejarah
Sosok seorang wanita mandiri muncul kembali di sebuah desa kecil bernama desa Busungbiu. Seorang pribadi yang santun dan ramah bernama Luh Sukerti. Dengan keuletan dan semangat juang yang tinggi dia mampu membuat semua mata orang tertuju padanya. Apakah yang membuatnya seperti demikian?
Hanyalah sebuah perusahaan dupa bernama Dewi Bunga.
Berawal dari keinginan yang mulia dia merintis perusahaannya tersebut demi kemanjuan desa tempat tinggalnya yaitu desa busungbiu. Usaha produk dupa ini dipilihnya karena keprihatinannya pada masyarakat bali sebagai konsumen terbesar pemakai dupa tidak bisa membuat dupa sendiri. Selama ini dupa sebagai sarana sembahyang umad Hindu dan Buda di import dari luar pulau bali sendiri yaitu pulau jawa. Dengan demikian tentu saja harganya akan meningkat karena di import dari luar pulau. Padahal masyarakat bali sendiri dapat memproduksi dupa sendiri dan dari segi skill tidak kalah dengan yang lain. Selain alasan tersebut baginya membuat dupa merupakan bagian dari yadnyanya kepada Ida Shang Hyang Widi sebagai sarana persembahyangan dan yadnya kepada manusia karena dapat menyerap tenaga kerja. Di zaman sekarang ini beliau menyadari banyak sekali tenaga kerja yang di pecat dan pulang kembali ke kampung halamannya. Hal ini terjadi juga pada masyarakat desa busungbiu yang sebagian besar merantau ke Denpasar sebagai tenaga kerja di hotel dan berbagai profesi yang berkaitan dengan pariwisata. Kita ketahui sebelumnya akibat adanya Bom BALI usaha bisnis pariwisata di bali mulai meredup.  
Kini bagi wanita dengan 2 anak ini menyadari arti pentingnnya dupa bagi kehidupannya. Baginya dupa bukan hanya sekedar sarana sembahyang tetapi sangat berarti baginya yaitu memberikannya dan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya sebuah kehidupan yang cukup layak.
Berbekal pengetahuan yang didapatkan dari adiknya sendiri yang pernah bekerja di sebuah perusahaan dupa di jawa yang kini telah kembali ke kampung halamannya dan merintis usaha dupa setengah jadi ini Luh Sukerti merintis usahanya pada tahun 2000. Awalnya dupa buatannya dipasarkan di desa busungbiu tersebut,  memang cukup sulit karena kurang di kenal masyarakat dan juga sebagian besar masyarakat kurang percaya dengan produk baru. Hal ini karena masyarakat sudah terbiasa menggunakan dupa merk lain yaitu dupa cap Buda. Dupa cap Buda adalah dupa yang pertama kali ada dan sudah mendarah daging dengan masyarakat bali sehingga susah untuk mengalihkan selera mereka. Selain itu juga masyarakat di desa busungbiu sebagian besar sulit untuk menerima perubahan. Namanya juga masyarakat desa masih kental dengan budaya dan masih agak sedikit kolot. Namun tidak semua orang berpikiran demikian sehingga dari tahun ke tahun perusahaannya mulai di kenal oleh masyarakat desa busungbiu bahkan di desa lain dan kini di telah merambah ke kecamatan lain di  kabupaten buleleng.
Awalnya perusahaan ini belum mempunyai nama namun menginjak tahun ketiga setelah didirikan Luh Sukerti memberikan nama untuk perusahaan yang dirintisnya dengan penuh perjuangan tersebut dengan nama Dewi Bunga. Sebuah nama yang memang sangat sederhana namun cukup membuat orang terpikat dengannya. merupakan sebuah nama yang  mempunyai banyak arti dan maksud yang mulia. Dewi artinya cantik dan mulia. Beliau mengharapkan perusahaannya mampu menarik dan memikat semua mata bak seorang dewi yang begitu mulia dan cantik serta agar perusahaannya diberkati oleh tuhan. Sedangkan  Bunga identik dengan keindahan dan keharumannya yang mampu memikat berbagai kumbang dan kupu-kupu dari berbagai tempat. Selain itu juga produk dupa buatannya sebagian besar dengan harum bunga. Beliau mengharapkan perusahaannya diminati oleh semua orang dari berbagai kalangan bak bunga yang diminati dan di cari-cari kumbang-kumbang dan kupu-kupu.

2.      Manajemen :
a.       Manajemen pemasaran
Dari awal Luh Sukerti hanya berniat untuk memproduksi dupa,  jadi produknya hanya dupa. Namun dupa buatannya bukan dupa sembarang dupa. Dupa buatannya di buat dari bahan-bahan berkualias dan dipilih dengan teliti. Namun disini dia tidak membuat dupa mulai dari pembuatan stik dupa hingga jadi sebuah dupa yang dipakai sembahyang. Beliau hanya mengambil dupa setengah jadi dari adiknya sebagai produser dupa setengah jadi tersebut. Hal ini di karenakan pembuatan stik dupa terlalu sulit dan rumit baginya dan membutuhkan waktu yang lama, jadi dia bekerjasama dengan adiknya yang memproduksi dupa setengah jadi tersebut.
Produknya terdiri dari dupa dengan berbagai ukuran dan bermacam-macam keharuman yang tentu saja memikat orang yang menciumnya. Ukuran dupanya bermacam-macam mulai dari sebesar lidi hingga sebesar ibu jari tangan, panjangnya mulai dari 12 cm hingga 1/2 meter. Namun untuk produksi yang paling banyak adalah dupa yang panjangnya 15 cm hingga 30 cm. Hal ini karena ukuran inilah yang paling sering digunakan umad hindu untuk sembahyang sehari-hari. Sedangkan untuk ukuran yang lain diproduksi dalam jumlah kecil tergantung pesanan. Biasanya untuk dupa ukuran besar kebanyakan dipesan oleh umad buda untuk sembahyang di wihara.
Keharuman yang bermacam-macam juga ditawarkan oleh perusahaan ini. Wangi dupanya kebanyakan bernuansa bunga lokal dari indonesia seperti melati, kamboja, sedap malam, lotus, jempiring, kenanga, mawar dan berbagai macam bunga lainnya. Selain wangi bunga perusahaan ini juga menyediakan dupa wangi cendana. Semua pilihan keharuman dari dupa tersebut tergantung dari pesanan.
Harga dari dupa produksinya tersebut bermacam-macam tergantung dari ukuran dan wanginya. Untuk dupa yang dibuat dengan disemprot tentu saja harganya lebih murah dari dupa yang pembuatannya dicelup. Hal ini karena perbedaan jumlah parfum dan konsentrasi parfum yang digunakan. Selain itu tergantung dari besar kecilnya ukuran dupa. Harga jualnya juga tergantung dari pesanan yang diminta. Biasanya pedagang-pedagang eceran membeli dupa yang disemprot Rp20.000 – Rp 40.000. Harga jualnya berkisar dari Rp1.500 hingga puluhan ribu. Untuk 1 kg dupa yang dicelup dijual dengan harga Rp25.000 sedangkan untuk dupa yang disemprot 1 kg dupa dijual dengan harga Rp 10.000 hingga Rp 15.000. Kemudian untuk 1 plastik ukuran setengah kilo dupa semprot dijual dengan harga Rp 6.000. Sedangkan yang di celup Rp 12.000 hingga Rp 15.000. Untuk dupa yang berukuran besar dapat dijual Rp 500 hingga Rp 2.000 rupiah per batang dan juga bisa lebih dari harga tersebut tergantung dari cara pembuatannya apakah dicelup atau di semprot dan ukurannya. Semakin besar ukuran dan semakin harum maka semakin mahal harganya.
Cara promosinya cukup sederhana yaitu berawal dari mulut ke mulut kemudian berlanjut ke toko-toko. Dengan dibantu suaminya beliau pergi ke toko-toko kecil untuk memasarkan produknya.  Karena produknya berkualitas dan cukup terjangkau Dewi Bunga mulai dikenal masyarakat luas.
Produknya awalnya hanya didistribusikan ke toko-toko dan warung-warung kecil di sekitar tempat tingalnya. Namun karena semakin banyak yang mengenal produknya tersebut produknya mulai dipasarkan ke grosir-grosir besar, namun beliau belum berani untuk mendistribusikannya ke toko-toko swalayan yang besar karena untuk masuk ke swalayan tersebut sulit dan banyak saingan.
Dimana ada keinginan disitu ada jalan. Namun jalan yang diberikan tak selamanya mulus. Demikianlah yang beliau katakan karena perjalanan bisnisnya tak semulus yang kita lihat, masih terdapat berbagai kendala yang bermunculan. Kendala-kendala yang dialami beliau dalam pemasarannya adalah susah untuk mendapatkan pelanggan tetap. Sekarang ini sudah banyak bermunculan perusahaan dupa yang mulai menyaingi beliau. Selain itu juga pemasarannya tergantung hari raya besar umat hindu. Untuk mengatasi hal demikian beliau meningkatkan kualitas produknya dan muali gencar untuk bercuap-cuap mempromosikan produknya.

b.      Manajemen keuangan
Perusahaan Dewi Bunga ini memang perusahaan kecil menengah yang cukup sukses. Berkat ketekunan dan tekat yang besar mampu membawa perusahaan ini ke tingkat yang lebih baik. Awalnya perusahaan ini hanya bermodalkan Rp 500. 000 kemudian semakin lama modalnya ditambah dari keuntungan yang didapatnya  hingga menjadi perusahaan besar. Modal awal tersebut didapatnya dari tabungan bersama dengan suaminya.
Beliau tidak mendapatkan modal tersebut dari bank karena menurutnya meminjam melalui bank terlalu rumit dan menurutnya uang sekecil itu kalau hanya meminjam lewat bank tidak akan diberikan pinjaman. Selain itu beliau harus memberikan jaminan kepada bank.
Keuntungan yang didapatnya awalnya hanya sedikit dan belum cukup untuk menambah modal namun suaminya menginvestasikan uangnya pada perusahaan tersebut untuk menambah modal awalnya. Seperti pepatah bersakit-sakit dahulu bersenang, kemudian modalnya semakin bertambah dengan semakin banyaknya keuntungan yang didapat. Keuntungan tiap bulannya tidak tentu tergantung jumlah dupa yang dijual. Jika pembelinya ramai dalam 1 bulan mampu mendapat keuntungan kotor hingga 1 juta rupiah. Sedangkan jika sedang sepi hanya beberapa ratus ribu saja.



c.       Aspek SDM ( Sumber Daya Manusia)
Untuk mendapat kualitas produk yang baik dan diminati oleh banyak orang maka produksi harus dilakukan oleh orang yang berkualitas pula, mengerti cara membuat dan tentu saja dibutuhkan orang yang ulet dan rajin dalam bekerja. Maka dari itu beliau tidak sembarangan dalam memperkerjakan karyawan. Penempatan karyawan disesuaikan dengan skill yang dimilikinya. Misalnya saja bagi karyawan yang bisa menyetir mobil dan pintar untu mempromosikan produk ditempatkan di bagian pemasaran dan ditugaskan untuk mendistribusikan produk, untuk karyawan yang mempunyai skill untuk membuat dupa ditempatkan di bagian produksi, sedangkan untuk karyawan lainnya ditempatkan di bagian pengemasan.
Awalnya produksi, promosi dan distribusi produknya hanya dilakukan oleh beliau dibantu oleh 1 orang karyawan dan suaminya serta dibantu oleh kedua anaknya. Namun kian lama beliau sudah tidak mampu memenuhi pesanan yang kian lama kian bertambah sehingga mulai menambah karyawannya lagi.
Kini jumlah karyawan tetap di perusahaannya adalah 10 orang. Di bagian produksi 3 orang, di bagian pengemasan ada 5 orang sedangkan 2 orang lainnya sebagai pendistribusi. Namun beliau juga menerima pekerja untuk mengemas produk walaupun tidak tetap jika jumlah pesanan banyak yaitu hari raya besar umad Hindu seperti galungan dan kuningan.

d.      Manajemen produksi
Produk buatannya harganya berbeda-beda tergantung cara pembuatannya yaitu dengan cara dicelup dan dengan cara disemprot. Jadi produksi yang dilakukan meliputi penyemprotan dupa dan pencelupan dupa.
Adapun cara pembuatan dupa Dewi Bunga yaitu :
1.      Pembuatan dupa dengan cara disemprot
Alat dan bahan :
·         Alat penyemprot (seperti alat penyemprot insektisida)
·         Larutan parfum
·         Dupa setengah jadi

Cara pembuatan :
·         Tempatkan dupa secara berjejer dan bertumuk-tumpuk.
·         Siapkan parfum kemudian campur dengan air.
·         Masukkan parfum yang sudah dicampur dengan air (larutan parfum) ke dalam tabung penyemprot.
·         Semprot dupa dengan larutan parfum tersebut.
·         Untuk 1 karung dupa disemprot dengan 1 liter larutan parfum.
·         Diamkan selama kurang lebih 15-20 menit.
·         Kemudian dupa siap dikemas.

2.      Pembuatan dupa dengan cara dicelup
Alat dan bahan :
·         Ember tempat pencelupan
·         Larutan parfum
·         Dupa setengah jadi
Cara pembuatan :
·         Siapkan dupa setengah jadi.
·         Kemudian larutkan parfum ke dalam air untuk membuat larutan parfum.
·         Masukkan larutan parfum ke dalam ember untuk pencelupan.
·         Celupkan dupa ke dalam ember yang telah diisi larutan parfum.
·         Untuk 1 karung dupa dibutuhkan 2 liter larutan parfum.
·         Diamkan beberapa jam sesuai dengan keinginan. Jika menginginkan dupa yang harumnya tahan lama dicelupkan lebih lama.
·         Keringkan dupa di bawah sinar matahari hingga kering.
·         Dupa siap dikemas.


1 comments:

Marketing Indratma said...

kami PT INDRATMA SAHITAGUNA memproduksi tepung kayu jati mesh 80 dengan tonase 600 ton/bulan. Kami juga memproduksi tepung batok kelapa, briket dan kami juga menerima pemesanan mesh sampai dengan mesh 120. kantor kami beralamat di jalan kedungmundu raya no 18C Kota Semarang Jawa Tengah. Hub kami telp : 024-76747916 / HP 085876342830