Diagnosis Gangguan Jiwa

9:32 PM Edit This 0 Comments »


1. Assessment dan Diagnosis

ü Proses assessment dan diagnosis klinis sangat penting bagi studi dan penanganan psikopatologi.

ü Assessment klinis: evaluasi dan pengukuran secara sistematik terhadap faktor psikologis, biologis dan social pada diri individu yang diduga mengalami gangguan psikologis.

ü Daignosis: Proses menentukan apakah masalah tertentu yang menimpa individu memenuhi semua kriteria gangguan psikologis tertentu.


2. Pemeriksaan Status Kejiwaan

ü Melibatkan observasi sistematik terhadap perilaku seseorang.

ü Pemeriksaan status kejiwaan meliputi 5 kategori:

a. Penampilan dan perilaku

b. Proses berpikir

c. Suasana perasaan dan afek

d. Fungsi intelektual

e. Sensorium

ü Penampilan dan perilaku --- perilaku yang tampak, cara berpakaian dan penampilan, postur tubuh, dan ekspresi.

ü Proses berpikir --- kecepatan berbicara, kontinuitas pembicaraan, dan isi pembicaraan.

ü Suasana perasaan dan afek --- keadaan perasaan yang dominan, keadaan perasaan yang menyertai ucapan individu.

ü Fungsi intelektual --- Tipe kosakata, ingatan, pengukuran, abstraksi dan metafor (kiasan-kiasan).

ü Sensorium --- keasadaran akan keadaan sekitar, yaitu terhadap orang (diri sendiri dan terapis), waktu dan tempat.


3. Pemeriksaan Fisik

ü Dilakukan bila klien belum pernah mengalami pemeriksaan selama satu tahun terakhir.

ü Dilakukan dengan perhatian khusus terhadap kondisi-kondisi medic yang berhubungan dengan masalah psikologis tertentu.

ü Bila ditemukan adanya kondisi medic tertentu, maka selanjutnya perlu dipastikan apakah kondisi tersebut merupakan gejala penyerta atau penyebab.


4. Asesment Behavioral

ü Merupakan tindak lanjut dari pemeriksaan status kejiwaan dengan cara melakukan observasi langsung dan formal untuk mengukur pikiran, perasaan dan perilaku individu dalam situasi atau konteks tertentu yang berhubungan dengan masalah.

ü Fokus pada ABC --- Antecedent (penyebab atau hal yang melatar belakangi), Behavior (Perilaku), dan Consequence (konsekuensi perilaku).

5. Tes Psikologi

ü Merupakan tes yang standar untuk mengakses adanya gangguan psikologis tertentu.

ü Tes psikologi yang bersifat khusus dapat mengungkap respon kognitif, emosional, dan perilaku yang mungkin berhubungan dengan gangguan tersebut.

ü Tes kepribadian proyektif maupun non proyektif

ü Tes intelegensi --- menentukan struktur dan pola kognisi

ü Tes neuropsikologis --- mengetahui kemungkinan kontribusi kerusakan atau disfungsi otak tertentu kondisi pasien.

ü Tes neurobiologis --- menggunakan gambar-gambar untuk menilai struktur dan fungsi otak.


6. Diagnosis

o Pendekatan dalam diagnosis

a. Pendekatan kategori klasik

Metode klasifikasi yang didasari asumsi mengenai adanya perbedaan yang jelas diantara berbagai macam gangguan, masing-masing dengan penyebab yang diketahui berbeda.

Lebih cocok untuk diterapkan dibidang medis daripada untuk mendiagnosa gangguan psikologi yang begitu kompleks.

b. Pendekatan dimensional

Membuat kategori berbagai karakteristik berdasarkan kontinum. Mencatat beragam kognisi, suasana perasaan dan perilaku klien dan mengkuantifikasinya kedalam suatu skala.

Kurang memuaskan karena tidak ada kesepakatan mengenai berapa banyak dimensi yang diperlukan.

c. Pendekatan prototipikal

Sistem kategori gangguan dengan menggunakan ciri-ciri penentu esensial, dan sejumlah variasi pada beberapa karakteristik lainnya.

Kelamahannya: batas-batas kategori tidak jelas dan ada beberapa gangguan yang memiliki kesamaan gejala (komorbiditas).

o DSM

DSM (Diagnostic and statistical manual of mental disorder). Merupakan pengembangan dan perluasan darimodel penggolongan Emil Kraepelin. Diperkenalkan pertama kali pada tahun 1952 dan versi terakhir pada tahun 2000, DSM IV-TR (Text Revision). DSM V dalam proses penyusunan.

DSM bersifat deskriptif, yang menguraikan ciri-ciri diagnostic dari perilaku abnormal, tidak menjelaskan penyebabnya.

Ciri-ciri DSM

a. Menggunakan kriteria diagnostic yang spesifik --- mendeskripsikan ciri-ciri esensial (kriteria yang harus ada) dan ciri-ciri asosiatif (kriteria yang sering diasosiasikan dengan gangguan tapi tidak esensial).

b. Pola perilaku abnormal yang memiliki ciri-ciri klinis yang sama dikelompokkan menjadi satu.

c. Sistem bersifat multiaksis --- menggunakan system yang multidimensional sehingga memiliki jangkauan informasi yang luas tentang keberfungsian individu.

I. Aksis I : Gangguan klinis dan kindisi lain yang mungkin menjadi focus perhatian.

II. Gangguankepribadian dan Retarasi Mental

III. Kondisi medis umum

IV. Problem psikososial dan lingkungan

V. Assessment fungsi secara global

Catatan:

Aksis I:

ü Gangguan klinis: pola perilaku abnormal (gangguan mental) yang meenyebabkan hendaya fungsi dan perasaan tertekan pada individu.

ü Kondisi lain yang mungkin menjadi focus perhatian: masalah lain yang menjadi focus diagnosis atau pandangan tapi bukan gangguan mental, seperti problem akademik, pekerjaan atau social, factor psikologi yang mempengaruhi kondisi medis.

Aksis II:

ü Gangguan kepribadian: mencakup poa perilaku maladaptive yang sangat kaku dan betahan, biasanya merusak hubunganantar pribadi dan adaptasi social.

ü Retardasi Mental

ü Seseorang bias memenuhi aksis I atau II, atau memenuhi kedua aksis.

Aksis III:

ü Kondisi medis umum dan kondisi medis yang mugkin penting bagi pemahaman atau penyembuhan atau penanganan gangguan mental individu.

ü Meliputi kondisi klinis yang diduga menjadi penyebab atau bukan penyebab gangguan yang dialami individu.

Aksis IV:

ü Problem psikososial dan lingkungan. Mencakup peristiwa hidup yang negative maupun positif; kondisi lingkungan dan social yang tidak menguntungkan, dll

Aksis V:

ü Assessment fungsi secara global. Mencakup assessment menyeluruh tentangfungsi psikologis social dan pekerjaan klien.

ü Digunakan juga untuk mengindikasikan taraf keberfungsian tertinggi yang mungkin dicapai selama beberapa bulan pada tahun sebeelumnya.


7. Sindrom Terkait Budaya

* Merupakan pola perilaku abnormal yang muncul hanya pada suatu atau beberapabudaya.

* Menunukkan bahwa budaya dan lingkungan social mempunyai pengaruh penting didalam perkembangan perilaku abnormal.

* Contoh: amok, koro, dll (baca buku Nevid dkk).

0 comments: