Candi Tebing Gunung Kawi

10:34 PM Edit This 0 Comments »

Candi Tebing Gunung Kawi secara administrative termasuk dalam wilayah Banjar atau Dusun Penaka, Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Secara astronomis berada pada 8o 25’ 40” LS dan 115o 18’ 74” BT, dengan ketinggian 470 meter di atas permukaan laut, suhu rata-rata adalah 23o C, curah hujan per tahun mencapai 1618 mm, sedangkan penguapan rata-rata 3,5 kg/meter persegi dan kelembapan udara 76%.

Candi Tebing Gunung Kawi baru dikenal secara luas oleh masyarakat umum sejak tahun 1920 melalui laporan yang dibuat oleh DT. Dameste. Sesuai dengan namanya. Candi Tebing Gunung Kawi adalah candi dipahatkan (kawi) pada tempat yang tinggai (gunung) dan merupakan komplek percandian yang terdiri atas empat gugusan, terletak di sebulah barat dan timur Sungai Pakerisan, yang meliputi:

Gugusan I, terdiri dari 5 buah candi yang dipahat berderet utara-selatan tebing sisi timur sungai,
Gugusan II, terdiri dari 4 buah candi yang dipahat berderet arah utara- selatan pada tebing sisi barat sungai,
Gugusan III, merupakan bangunan biara dan ceruk-ceruk dipahat pada tebing yang terletak di sebelah selatan gugusan I,
Gugusan IV, merupakan sebuah candi beserta ceruk-ceruk pertapaan terletak sekitar 220 meter di arah selatan dari gugusan II.

Dari data arkeologi dapat dijelaskan mengenai beberapa hal mengenai komplek Candi Tebing Gunung Kawi antara lain:

 Adanya tilisan dengan tipe huruf kediri kwadrat pada dua buah candi pada deretan 5 candi (gugus I) yang dibaca “haji lumah ing jalu” ( beliau yang didharmakan di pakerisan) dan “rwa anak ira” ( dua anak beliau= mungkin yang dimaksud dua anak Udayana yang berkuasa di Bali yaitu Marakat dan Anak Wungsu). Dari data ini memberikan petunjuk Candi Tebing Gunung Kawi telah dibuat pada abad ke 11 masehi, mengingat bentuk tulisan kadiri kwadrat lazim dipergunakan di Jawa Timur pada abad ke 11 dan kemungkinan pula komplek Candi Tebing Gunung Kawi dibuat pada masa pemerintahan Raja Anak Wungsu, karena berdasarkan prasasti-prasasti yang dikeluarkannya, beliau berkuasa di Bali pada tahun 1049-1077 masehi.
 Komplek Candi Tebing Gunung Kawi merupakan bangunan suci berupa padmasana (kuil) dari raja-raja Bali Kuno di samping itu komplek ini juga berfungsi sebagai tempat pertapaan dan petirtaan.









Museum Purbakala

Museum purbakala dipelihara oleh BPPBB (Balai Pelestarian Purbakala Bali wilayah kerja Bali, NTB, NTT). Museum ini didirikan pada tahun 1950 dan diresmikan tahun 1974 oleh Prof. Dr. Hardayati Subadyo serta disahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono.

Dalam museum ini disimpan benda-benda sejarah dari dua zaman yaitu zaman sejarah dan zaman prasejarah.



 Masa prasejarah
• Koleksi masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana, yang terdapat di gedung A
Di gedung A ini terdapat peninggalan zaman paleolitik batu tua. Berdasarkan tempat ditemukannya, dibagi atas: temuan permukaan dan temuan galian.
Benda-benda ini ditemukan di wilayah Sawiran, Buleleng serta di Tepian Danau Batur. Benda-benda peninggalan di zaman ini dikerjakan dengan sangat kasar. Dan biasanya digunakan untuk mencari ikan dalam kehidupan nomaden yang mereka lakukan, sehingga masyarakat di zaman ini memilih untuk bertempat tinggal di kawasan dekat air, misalnya saja di kawasan dekat sungai, danau, atau di kawasan pinggir pantai.
• Koleksi masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, alat-alat yang digunakan pada zaman ini adalah alat-alat yang digunakan pada zaman mesolitik, yang terbuat dari tulang.
Misalnya alat dari tulang yang kedua ujungnya lancip yang digunakan untuk mencari ikan. Alat ini selain ditemukan di kawasan Sulawesi Selatan, juga ditemukan di kawasan Australia.

Hal ini membuktikan bahwa masyarakat pada zaman ini telah mengenal pelayaran. Mereka menggunakan ilmu perbintangan untuk menentukan kapan saat yang baik untuk berlayar.

Masyarakat pada zaman ini tinggal di goa-goa alam yang masih dapat dilihat sekarang., misalnya saja Gua Karang Boma serta Gua Pecatu.

• Koleksi masa bercocok tanam (food Producing), manusia pada zaman ini telah hidup menetap serta dapat memproduksi makanan sendiri. Mereka menggunakan system irigasi.
Tempat pemujaan mereka berupa Pynden berundak, Menhir dan Nekara. Cara penguburan di zaman ini menggunakan dua cara yaitu, penguguran primer dikuburkan langsung pada tanah dan penguburan sekunder yaitu dengan cara diabukan atau dibakar.

Mereka juga menggunakan tempat penguburan bagi orang-orang tertentu seperti orang yang berpengaruh, kepala suku, serta orang yang kaya, yang dikuburkan dengan pmenggunakan tempat yang bernama Sarkofagus. Sarkofagus memiliki dua bentuk, yaitu bulat (system penguburan terlipat, menggunakan system jongkok), dan panjang (mayat diletakkan terlentang yang diletakkan menghadap matahari terbitatau arah timur). Sarkofagus ini ditemukan oleh masyarakat secara tidak sengaja.
• Koleksi masa perundagian,
• Koleksi zaman logam.

Jenis-jenis Sarkofagus




























Pura Kebo Edan

Dalam pura ini terdapat dua arca. Menurut sejarah diceritakan Bhatara Indra melepaskan kerbau-kerbau untuk mengusir roh jahat di daerah ini. Dan untuk memperingatinya, oleh masyarakat sekitar dibangun candi yang dilambangkan sebagai penjaga, yaitu berupa arca kerbau (nandhi). Arca ini dibangun pada mesa pemerintahan Siwa Bhairawa yang dalam pemerintahannya menganut ajaran Tantrayana.

Ajaran ini berasal dari Kerajaan Singosari pada mesa pemerintahan Raja Kertanegara. Kertanegara ingin melaaksanakan cita-citanya yaitu Sunpah Pamalayu (1278) yang isinya ingin mengusai nusantara. Saat ingin menaklukkan bali, Kertanegara harus menghadapi Khubilai Khan yang telah terlebih dahulu menguasai bali. Tapi akhirnya singosari berhasil menaklukkan bali pada tahun 1287 yang dipimpin oleh Raja Patih kebo parut.

Ajaran Tantrayana, selain di Kebo Edan, juga di anut di Padang lojo, Sumatra pada masa pemerintahan Adityawarman. Di Pura kebo Edan ini berdiri sebuah arca yang memiliki ciri-ciri :
Tingginya 360 cm
Berdiri di atas mayat manusia
Mukanya memakai kedok
Lehernya terdapat kalung ular yang memiliki gambar tengkorak (yang merupakan lambing dari kaki tangan Siwa Bhairawa). Di bali Arca bima juga merupakan aluran tantrayana.
Arca ini juga menganut aliran Tantrayana yang terbukti dengan kemaluan yang dimiliki oleh arca ini menghadap ke kiri. Menurut ajaran Tantrayana, kiri merupakan arah baik yang dapat dibagi dua yaitu :
1. Niweri
Pancama :
Matsya : makan ikan sepuas-puasnya,
Moksa : makan daging sepuas-puasnya,
Mudra : makan daging sepuas-puasnya,
Mada : minum minuman keras sepuas-puasnya,
Maitula : melakukan seks sepuas-puasnya.
2. Prawerti
Mencapai moksa yoga Samadhi.


















Pura Pusering Jagat

Pura Pusering Jagat merupakan pusat dari dunia. Pura ini merupakan salah sati sad Khayangan. Yang sudah ada dari zaman prasejarah, hingga zaman sekarang ini yaitu zaman sejarah. Di sini terdapat ratu Purusa dan Predana atau Phalus dan Pulva yang disebut sebagai Lingga Yoni. Dengan sembahyang di tempat ini, dipercaya dapat dikaruniai putra atau putrid. Lingga Yoni merupakan alat kemluan laki-laki dan alat kemaluan perempuan yang diabstrakkan. Apabila keduanya dipertemuakan maka akan menghasilkan keseimbangan yang merupakan lambing dari pertemuan antara negative dan positif.

Da Pura Pusering jagat ini juga terdapat Sangku Sudamala yang berangka tahun 1251 caka atau 1329 Masehi. Sangku sudamala merupakan lambang pemutaran lautan susu (yang diceritakan dalam epos adi parwa) yang merupakan pemindahan Gunung Mahameru (India) ke semeru yang sifatnya sangat labil.













Pura Penataran Sasih

Latar belakang
Pada suatu ketika pejeng kejatuhan bulan kemudian setelah ulan jatuh, desa ini terus menerus terang tanpa ada malam. Karena ada yang merasa tidak nyaman (yaitu orang-orang yang pekerjaannya malam hari, yang mengerjakan hal-hal negative) kemudian bulan itupun dikencingi sehingga menyebabkan sinarnya redup dan bahkan hilang.

Setelah diadakan penelitian , ternyata yang dianggap bulan tersebut adalah sebuah nekara perunggu yang sangat besar. Dan ternyata nekara itu merupakan nekara yang terbesar di Asia Tenggara. Nekaraini memiliki panjang 186,5 cm dan memiliki bidang pukul dengan diameter 160 cm yang merupakan tempat pemujaan yang dilakukan pada zaman nenek moyang kita terdahulu.


0 comments: